Preface

Seorang pria muda duduk di balkon lantai dua rumah kontrakannya, di atas meja samping kirinya tergeletak ‘Moll Flanders’ karya Daniel Defoe dengan cover gadis cantik bersanggul. Pria umur pertengahan dua puluh itu mengambil batangan rokok kretek di samping novel setebal 276 halaman tadi, mulai dibakarnya ujung kretek yang telah menempel di bibirnya. Di hembuskannya asap yang telah menusuk paru-parunya, seolah berharap beban dalam fikirnya akan menguap terbawa asap yang menari bersama angin.

Betapa tidak mungkin itu terjadi‘ gumamnya, seolah menjawab pertanyaannya sendiri. Sedangkan ia tahu bahwa semua yang telah rencanakan dengan matang ternyata tidak seperti yang ia harapkan. Lalu ia mengingat kembali tentang jalan yang ia tempuh ternyata tidak sesuai dengan semua rencana. Betapa permainan takdir telah membuatnya sebagai lakon yang tak bisa menentukan apapun.